CONTRAST (4)

c

Musim gugur telah tiba, sudah lewat satu bulan semenjak salah satu anggota keluarga mereka pergi. Dua anak kembar itu duduk bersisian di atas karpet berbulu hangat di depan meja sebuah ruangan di rumah mewah itu dengan perapian menyala kira-kira dua meter di hadapan mereka. Masing-masing tampak fokus dengan laptop putih yang sama, mouse yang sama, dan mereka pun mengenakan baju yang sama berbalut sweater yang sama dengan inisial ‘KK’ di kerah sebelah kiri.

Kyuhyun dan Kibum, memainkan game online dalam diam sejak dua jam yang lalu. Heechul yang baru saja datang dengan berbagai macam snack, bergabung duduk bersiap mengganggu aktivitas kedua adik kembarnya.

“Hei twins! Appa akan pulang malam ini. Tidakkah kalian ingin membuat sambutan?”

Tidak ada yang merespon. Heechul menggebrak meja kayu dengan ukiran unik itu hingga atensi dua anak kembar disana melotot tajam kepadanya.

“Dengarkan kalau Hyung berbicara!” teriaknya kesal.

Kyuhyun dan Kibum hanya menghela napas. Sudah terbisaa dengan Heechul yang emosian.

Hyung bicara apa? Ulangi, biar kita dengarkan dengan saksama.” Kyuhyun menutup laptopnya, lantas menghadap Heechul dengan tangan bersedekap. Bersikap sok serius, sekaligus menghalau dingin yang mulai menusuk kulitnya dibalik dua lapis bajunya yang mirip dengan milik Kibum.

Disampingnya Kibum hanya mengulas senyum samar, menutup laptopnya juga kemudian ikut menatap Heechul—tanpa bersedekap.

“Dengar, Appa akan pulang sekarang,” Heechul melirik jam dinding sekilas. “Sebentar lagi sampai, kira-kira.”

Jeongmal?”

“Iya, Kyu. Makanya kutanya, tidakkah kalian ingin memberikan sambutan? Sudah satu bulan Appa tidak pulang, kan?”

“Kekanakan,” dengus Kibum. Ia menyandarkan kepala ke sofa dibelakangnya.

“Ide bagus,” pemikiran Kyuhyun bertolak belakang dengan Kibum. “Kita beli makanan yang banyak dan merayakan kepulangan Appa dengan makan-makan sampai kenyang, setuju?” usulnya.

Heechul menjitak kepala Kyuhyun. “Bilang saja kau lapar!”

Dan anak itu malah tertawa senang, apalagi tahu bahwa Heechul akan mengabulkan keinginannya. “Aku memang sudah sangat lapar,” akunya dengan tampang tak berdosa.

“Dasar Maknae!” cetus Heechul asal sambil berlalu.

Heechul tak tahu, dua orang yang ditinggalkannya itu kini diam. Merasakan lagi sakit dan perasaan bersalah yang tak pernah terobati.

“Hm, kau maknae sekarang,” gumam Kibum. “Seperti keinginanmu dulu, kan? Ketika eomma menanyakan kita ingin adik atau tidak. Selamat, keinginanmu terwujud.”

Kibum pergi, dengan memeluk laptopnya erat-erat. Menyamarkan tangannya yang bergetar. Ia takut, sungguh! Takut dengan perasaannya sendiri yang membuat hidupnya satu bulan ini tidak tenang. Adik perempuannya setiap hari menemuinya lewat mimpi, seperti nyata. Tak ada cara lain, Kibum harus berbagi, mencoba menghilangkan perasaan sakitnya dengan ‘membaginya’ dengan Kyuhyun. Ia ingin Kyuhyun merasakan hal yang sama sepertinya. Ia tak suka melihat Kyuhyun selalu ‘baik-baik saja’ bahkan ketika mereka membicarakan Appa seperti tadi. Tidakkah Kyuhyun merasa sakit? Ayahnya akan pulang, dari mengurus semua yang terbengkalai ketika prosesi pemakaman adiknya. Juga mengurus eomma yang kata Heechul hyung mengalami depresi berat akibat kejadian itu.

Salahkah Ia?

“Kyu! Kibum! Bantu hyung menata piring!”

Heechul berteriak dari dapur. Lalu, Kyuhyun menyahut dari arah ruang tamu bersamaan dengan suara mesin mobil mendekat, masuk ke pekarangan rumahnya. “Hyung panggil Kibum saja! Aku akan menemui Appa di garasi!”

Segera, Kibum menyimpan laptopnya di kamar, langsung berlari menuruni anak tangga dan menemui ayahnya yang baru saja datang.

Tapi, kenapa Appa sendiri?

“Mana eomma?” tanyanya langsung. Kyuhyun menyusul di belakang ayahnya dengan raut sendu, sama-sama kecewa dengan tidak adanya eomma.

“Mulai sekarang, kalian akan hidup bersama Appa dan Heechul hyung saja, eoh! Eomma membutuhkan perawatan yang sangat lama.”

Sosok tegap dengan raut lelah itu tersenyum canggung. Kibum dan Kyuhyun sangat mengerti apa yang dimaksud Appa.

“Dimana eomma sekarang?” Kyuhyun mendekat, otomatis ayahnya langsung memberikan sebuah pelukan. “Jangan bilang Appa meninggalkan eomma!” teriaknya marah.

“Maafkan Appa, Kyu. Kau tahu bisnis Appa—”

“Bisnis Appa akan hancur karena eomma sakit, begitu?!” Kyuhyun meronta ketika mendapati sang ayah hanya diam, seolah mengiyakan apa yang ia katakan.

Kibum melihat air mata jatuh ketika Kyuhyun menutup matanya. “Bawa eomma pulang, AppaJebal,” lirihnya. Hati Kibum ikut tersayat.

“Sebaiknya kita bicara setelah makan malam.”

Heechul datang, merangkul Kyuhyun, membawanya pergi dari ruang tamu yang kini terasa ‘panas’. Sedangkan Kibum masih berdiri berhadapan dengan ayahnya.

“Benarkah apa yang dikatakan Kyuhyun? Appa lebih mementingkan bisnis?” desisnya tajam. Dan tak mendapat jawaban.

“Dimana eomma? Kau tak berniat memisahkan kami dari eomma, kan?”

“Kibumie—”

“Ini salahku, salah Kyuhyun juga. Bukan salah eomma!”

“Tapi eomma sakit, Kibumie. Kau sudah besar, seharusnya kau mengerti posisi Appa.”

“Aku mengerti.” Pada Akhirnya, ialah yang harus kalah. Kibum mundur selangkah, lantas berbalik pergi, tak ingin emosinya meluap dan membuat ayahnya sakit hati. Bagaimanapun laki-laki itu adalah ayahnya. Orang yang sangat menyayanginya selama ini, bersama eomma.

***

Baca lebih lanjut

CONTRAST (2)

Jalanan yang tampak lengang tidak disia-siakan begitu saja oleh dua orang dengan wajah yang sama di dalam mobil silver yang masih terlihat mengkilap itu. Kibum duduk di balik kemudi, dan Kyuhyun tampak asik menikmati musik sambil mengangguk-anggukan kepala. Musik yang berdentum keras, jalanan yang lengang dan mobil baru yang sangat mendukung untuknya mengemudi dengan kecepatan di atas rata-rata itu membuat Kibum tak malu untuk menguji keahliannya dalam mengemudi. Keahliannya yang ditularkan dari Kyuhyun, setelah ia diajak mengikuti illegal race bersama teman-teman Kyuhyun yang sebelumnya Kibum pikir kurang kerjaan. Ternyata ia salah, kegiatan malam yang satu itu memang menyenangkan, menguji adrenalin. Terlebih, mereka harus sembunyi-sesembunyi untuk keluar dari rumah, dan itu sangat seru—katanya.

Beda lagi dengan Kyuhyun, anak itu telah beberapa kali merusak mobil ayahnya sejak pertama ia masuk SMP. Gelar berandal memang telah melekat padanya sejak kecil. Tapi, ia pikir tidak sia-sia karena ujungnya adalah mereka—Kibum dan Kyuhyun dibelikan sebuah mobil baru.

“Jangan coba mengemudikan mobil lagi tanpa sepengetahuan Appa. Ingat, mobil ini akan dikemudikan sopir pribadi kalian dan jangan coba-coba melangggar aturan, mengerti?”

Kala itu mereka mengangguk saja, toh Appa tidak selalu ada di rumah untuk mengawasi mereka secara langsung. Telah terjadi beberapa kali dalam seminggu ini, Kyuhyun dan Kibum berhasil mengelabui orang rumah dan membawa mobil itu sendiri, bahkan ikut sera dalam illegal race di setiap akhir pekan.

Tadi Eomma pergi bersama adik perempuan mereka, Heechul Hyung telah pergi ke kampus pagi-pagi seali untuk ujian, dan Appa tentu saja sudah pergi bekerja. Yang mereka lakukan hanyalah ‘menidurkan’ sopir pribadi yang tadi siap mengantar, lantas mengambil kunci mobil dalam saku pria yang mereka panggil Han Ahjusi itu dengan sangat hati-hati.

Disinilah mereka sekarang, memilih jalanan lengang untuk menguji kecepatan satu sama lain dalam mengemudi. Persiapan balapan sabtu nanti melawan anak SMA yang tentu saja dengan usia di atas mereka. Walaupun masih duduk di tinggat SMP, mereka tak ingin kalah. Harga diri seorang laki-laki.

“Aku akan menghitung kecepatanmu, sampai supermarket di ujung jalan itu, arra? Aku ingin lihat perkembangan kemampuanmu yang kalah telak oleh ku di race minggu lalu,” tantang Kyuhyun dengan nada mengejek.

Kibum berdecih, mendorong kepala Kyuhyun kedepan dengan keras. “Minggu lalu adalah yang pertama untukku, aku masih tegang, bodoh!” umpatnya, “Kau ingin aku ngebut disini seperti di race waktu itu? Kau gila, Kyu!”

“Ayolah, Kibum. Disini sepi, lagipula jalanan sangat-sangat lengang. Kau lihat, hanya ada kita disini.”

“Tapi—”

“Kau takut kalah, kan? Aku tahu, dasar lambat!”

Yak!” Kibum memukul kemudi, emosinya mulai tersulut berkat Kyuhyun. “Ayo! Aku tak akan kalah olehmu!” Kemudian ia bersiap menginjak pedal gas kuat-kuat agar kecepatannya tak terkalahkan oleh Kyuhyun.

“Lihat saja nanti.” Kyuhyun tertawa puas, ia mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi stopwatch. “Hitungan mundur. Tiga… dua… satu!”

Dan mobil itu melesat cepat tak terkontrol, Kyuhyun bahkan berteriak seru dengan aksi Kibum yang menurutnya keren itu. Mereka tak tahu apa yang akan terjadi…

Tak berselang lama, kejadian naas itu pun terjadi. Kibum hanya ingat wajah seseorang ketia mobil yang dikendarainnya membentur sesuatu dengan sangat keras. Kemudian terdengar jeritan keras dari dirinya, Kyuhyun dan seorang wanita di luar sana.

***

“CONTRAST”

By: khy13

13153247_569448613217109_202603896_n

Baca lebih lanjut

CONTRAST (1)

“Kyuhyun bilang aku terlalu dingin, tidak peduli dengan segala hal, dan tidak bisa berteman. Dia bilang aku harus berubah, menjadi seperti dirinya yang tampak dapat bergaul dengan siapapun. Tapi kukira aku sudah benar. Aku ini pintar, karena belajar. Bukan karena banyak teman.” –Kim Kibum.

***

“Kibum bilang aku terlalu terbuka, berteman dengan siapapun, dan selalu ikut campur urusan orang lain. Dia bilang aku harus berubah, menjadi seperti dirinya yang selalu berteman denagan buku-buku tebal yang bisa membuatnya lebih pintar. Tapi kukira aku sudah benar. Aku senang dengan semua teman-temanku, karena mereka membuatku tahu hal luar biasa lain yang terjadi selain tentang pelajaran dan orang sedingin Kibum.” –Kim Kyuhyun.

***

“CONTRAST”

By: khy13 Baca lebih lanjut